Pernah ngerasa sumpek ngga’ kalo tiap malem kita begadang karena bayi nangiiiisss mulu? Pernah bingung engga’ apa yang sebetulnya  diinginkan oleh si bayi?

Bayi berkomunikasi lewat tangisan. Semua orangtua dan calon orangtua tahu ini. Tapi, tahukah Anda bahwa bayi juga bisa menangis ketika emosi Anda sedang negatif ?Ketika feeling anda juga sedang stress?

Saking lembut dan perasanya bayi, mereka bisa membedakan sentuhan yang biasa (penuh kasih dan sayang) dengan sentuhan yang sedang emosi dari orang yang sama. Tak hanya itu saja, bayi memiliki tangisan berbeda untuk masalah yang berbeda. Pada mulanya, tangisan bayi mungkin terdengar sama saja, tetapi bila orangtua cermat menyimak, lama-lama akan tahu “arti” jenis tangisan yang berbeda. Sampai dengan usia tiga bulan, bayi memang masih sering menangis, kemudian frekuensinya akan menurundan orangtua biasanya dapat mengenali tangisannya.

– Bayi lapar, mula-mula terjadi tangisan yang ritmis, semakin lama semakin keras, dan akan berhenti setelah diberi susu.

– Mengantuk atau lelah, tangisannya berfluktuasi dalam hal nada serta volume suara dan tidak teratur. Tanda-tanda lainnya adalah mengisap jari, mengucek-ucek mata, menepuk-nepuk telinga, terlihat gelisah dan sesekali memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain.

– Kesakitan, tangisannya keras dan melengking. Setengah berteriak, tangisannya panjang. Wajahnya memperlihatkan rasa tidak nyaman.

– Pipis atau BAB, tangisannya terdengar berteriak dengan suara yang keras. Napasnya agak tersendat karena temponya berubah lebih cepat disusul dengan suara tangisan berikutnya.

– Takut. Tangisannya tiba-tiba, keras, dan melengking seperti megap-megap untuk menarik napas. Tangisan itu akan menghilang kalau rasa takut sudah teratasi.

– Bosan atau kesepian, tangisannya pendek-pendek, kadang diam, kemudian menangis pendek lagi.

{sumber : kompas.com}