Membacanya memacu keinginan untuk terus dan terus menikmati alur cerita dari awal sampai akhir. Hingga untuk melewatkan satu katapun berasa sayaang sekali. Bahasa yang begitu bagus, meski aku ini cetek dalam ilmu sastra, aku berhasil memberi penilaian “perfect” untuk buku ini.

Cerita yang ga monoton, mampu membangkitkan emosi, cerita yang berhasil membuat penasaran, cerita yang sangat mendidik, penuh dengan bahasa-bahasa sains, menggelitik, hmm apalagi yaaa kata² yang pantas untuk sebuah karya ini. I ♥ this novel, dah !

Andrea Hirata ! Sukses ! Seorang penulis yang sudah membius berjuta-juta orang untuk membaca karya tulisnya. Cerita sekelompok anak Belitong yang berjuang keras hanya untuk mengenyam bangku pendidikan. Perjuangan seorang Bu Muslimah sebagai guru. Perbandingan antara sekolah muhammadiyah yang miskin dengan sekolah PN yang begitu modern. Keunikan masing2 anak, mulai dari Ikal, Mahar, Lintang, A kiong, sampai ke Flo. Dan lain2nya..

Pendiskripsian dari masing² cerita yang Andrea paparkan benar² jelas, terang sekali, seolah-olah tanpa aku harus memeras otakku untuk membayangkan bagaimana kejadian sebenarnya. Aku masih ingat bagaimana Andrea menjelaskan tentang insiden kapur tulis di toko Sinar Harapan, pendiskripsiannya tentang jari² lentik A ling yang bisa Ikal nikmati lewat lubang kecil tempat transaksi kapur, sampai² hanya dengan pandangan jemari saja ikal bisa jatuh cinta, cinta monyet yang begitu lucu. Ah, sepertinya aku tidak sebakat Andrea untuk menulis sedemikian detail gambaran ceritanya. Otakku hanya bekerja untuk menyusun beberapa kata demi kata yang terlintas saja dan hanya sebatas ingatan setelah khatam membaca novel itu.